RSS

#cuplikan


               Otak tak hentinya memikirkan setiap pelajaran kehidupan, terkadang menyadari terkadang tak disadari namun ketika menyadaripun hanya digunakan untuk intropeksi dan mengambil keputusan untuk beberapa hari bahkan beberapa jam saja. Padahal pelajaran dari yang kita alami dapat bermanfaat untuk orang lain agar mereka tidak terjebak terlalu lama dalam problematika yang sama  bahkan untuk menghindarinya. Tak hanya satu alasan, kebiasaan cerita panjang lebar sekitar 1 : 5 jika dibandingkan dengan synopsis bisa membuat orang jenuh untuk mendengarkannya bahkan kehilangan waktu berharga mereka, so menulis adalah solusi sementara selagi semangat masih menggebu agar kebiasaan buruk itu tersalurkan tanpa melewati ruang dengar orang lain. Silakan jika anda bersedia meluangkan waktu untuk berbagi dan dibagi cerita dengan saya, karena saya ingin berbagi dengan yang mau sharingg agar saling ikhlas dalam berbagi solusi ya :D
             

Ramadhan

Ramadhan kali ini harusnya lebih baik dari tahun sebelumnya. Itu yang diinginkan semoga raga dan hati mendukung keinginan itu dan tentunya dengan ridho Allah SWT, ridho Allah adalah segalanya karena apapun yang kita lakukan tak bernilai tanpa ridho-Nya.
Ceritanya mau flashback…
Tahun lalu merasakan awal Ramadhan di tempat perantauan, meski hanya beda kota saja namun rasanya tetap saja berbeda sahur tanpa kehadiran keluarga. Merasakan kesedihan itu wajar adanya, tapi disana Allah tetap menghadirkan kebahagiaan. Saya banyak dipertemukan orang-orang yang penuh cinta,salah satunya adalah pertemuan dengan teman kosan. Meski baru saling mengenal namun kami cepat akrab, nikmat yang paling indah itu ketika kami sahur dan berbuka bersama setiap harinya “hangat sekali suasananya” ada beberapa teman yang non muslim namun tetap berbaur merasakan sahur dan buka bersama pula.
Ya Allah kangen masa itu, masa perjuangan matrikulasi yang menguras tenaga namun berkesan ^^
Berbeda dengan tahun ini meski merasakan awal Ramadhan di tempat perantauan tetapi lebih banyak menghabiskan waktu Ramadhan di rumah bersama keluarga tercinta. Bertemu dengan nikmatnya aroma masakan mama, mendengar ketukan dan panggilan sahur orang tua, dan yang paling bahagia ketika mendengar sirine pertanda waktu berbuka puasa. SubhanAllah, Ramadhan itu selalu indah dimanapun kita berada. Tapi ada satu yang dirindukan setelah pulang ke rumah yaitu suasana shalat Tarawih di Al-ghiffari yang penuh ketenangan, ingin rasanya kembali ke tempat perantauan untuk mendengar lantunan ayat suci di Al-ghiffari dan berkumpul dengan teman seperjuangan namun diri ini lebih rindu ketika harus meninggalkan rumah.
Sebenarnya apa tujuan tulisan ini?hanya ingin menyampaikan dimanapun kalian berada teman ataupun keluarga I always miss u, smg Allah menjagamu :D

Lactose Intolerant

               Dulu memang terdengar asing ketika mendengar kata lactose Intolerant, sekarang terdengar biasa dan agar sama-sama terdengar biasa akan sedikit dibahas mengenai lactose intolerance ini.
               Sering kita menemui kerabat bahkan kita sendiri mengalami mules dan diare setelah meminum susu hewani. Sebagian orang beranggapan itu hanya sugesti atau kebetulan saja. Tapi ternyata memang terdapat masalah dalam perut penderita, penderita inilah yang disebut lactose intolerant.
               Lactose Intolerant merupakan salah satu kelainan pada seseorang yang hanya memproduksi enzim lactase sedikit saja atau tidak memproduksi enzim laktase. Enzim Laktase ini berperan dalam pemecahan Laktosa menjadi glukosa dan asam laktat. Ketika seseorang tidak memproduksi enzim lactase maka laktosa dari susu yang dikonsumsinya tidak dapat dipecah menjadi gugus yang lebih sederhana sehingga laktosa ini tidak dapat diserap oleh usus.
               Kebiasaan seseorang mengonsumsi susu memengaruhi produksi enzim laktosa didalam perutnya, orang yang tidak terbiasa mengonsumsi susu menyebabkan produksi enzim lactase menurun. Jadi wajar ketika seseorang yang tidak terbiasa minum susu tiba-tiba minum susu dan mengalami mules dan diare.
               Jangan khawatir jika teman-teman merupakan penderita lactose Intolerant, namun ingin mendapatkan berbagai manfaat dari susu. Banyak alternative yang dapat digunakan untuk tetap mendapatkan manfaat dari susu tersebut diantaranya adalah konsumsi yoghurt atau susu kedelai yang memiliki kandungan protein yang hampir setara dengan susu murni.
               Mengapa yoghurt dapat menjadi alternative bagi penderita lactose intolerant? hal ini dikarenakan pada pembuatan yoghurt telah dilakukan fermentasi yang dibantu oleh bakteri asam laktat(BAL) yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Bakteri asam laktat ini memiliki enzim lactase yang dapat memecah laktosa menjadi glukosa dan asam laktat sehingga dapat diserap oleh tubuh.
               Meski sama-sama sebagai minuman substitusi dari susu murni, yoghurt dan susu kedelai memiliki mekanisme yang berbeda dalam mengatasi lactose intolerance. Jika yoghurt dapat dikonsumsi oleh lactose intolerant karena asam laktat yang dikandungnya telah dipecah menjadi gugus yang lebih sederhana sementara susu kedelai dapat dikonsumsi oleh lactose intolerant karena tidak memiliki kandungan laktosa, karena laktosa itu hanya terdapat dalam susu murni saja bukan susu buatan seperti kacang kedelai.      
               Namun disayangkan pada kacang kedelai terdapat antigizi antitripsin yaitu. senyawa protein yang bersifat sebagai antinutrisi, yaitu mempunyai kemampuan untuk menghambat aktivitas enzim tripsin di dalam saluran pencernaan. Jumlah enzim tripsin yang dihasilkan oleh pankreas tergantung pada jumlah enzim tripsin bebas dalam usus. Bila konsentrasi tripsin dalam usus menurun sampai batas tertentu maka pankreas akan memproduksi lebih banyak enzim. Sebaliknya, bila konsentrasi enzim tripsin di dalam usus normal kembali maka sekresi enzim tripsin akan dihambat. Mekanisme tersebut diatur oleh hormon kholesistokinin yang dihasilkan oleh mukosa usus. Adanya antitripsin dalam makanan menyebabkan penurunan jumlah tripsin bebas dalam usus. Keadaan ini menyebabkan pankreas memproduksi enzim tripsin lebih banyak dan karenanya pankreas bekerja hiperaktif sehingga terjadi pembesaran (hipertrofi).

Sebagian besar antitripsin dari tanaman dapat dirusak oleh panas sehingga secara umum nilai gizi kacang-kacangan akan meningkat jika dilakukan pemasakan. Kerusakan antitripsin oleh panas tergantung pada suhu, lama pemanasan, ukuran partikel, dan kadar air bahan yang dipanaskan. Proses pengukusan sangat efektif untuk menurunkan kadar antitripsin kacang-kacangan.( http://fourseasonnews.blogspot.com/2012/04/pengertian-antitripsin.html)
  Inaktivasi dengan penggunaan panas lembab
o   121°C 30menit mengurangi 80% aktivitas anti-tripsin kacang tanah
o   108°C 15menit menonaktifkan tripsin
o   110°C mencegah efek anti-tripsin

-          Inaktivasi dengan menaikkan pH
o   Kenaikan pH mempersingkat waktu yang diperlukan untuk destruksi anti-tripsin


·       Protein nabati sukar larut pada pH 3-6 (pH isoelektrik), sedangkan anti-tripsin mudah larut pada pH 3-6, sehingga dapat menghilangkan anti-tripsin tanpa pengaruh besar pada kandungan protein(http://anita-widynugroho.blogspot.com/2011/03/pengertian-anti-tripsin-atau-penghambat.html)

Sebenarnya ada banyak solusi bagi penderita lactose intolerant terutama di Negara-negara maju. Seperti adanya kemasan aktif  pada produk susu yang dapat melepas enzim laktase dari kemasan ke produk namun nampaknya di Indonesia  produk ini belum banyak dipasarkan biasanya pada produk ini tertera keterangan Lactose Free.
Agak penat dengan banyaknya tugas dan hafalan saat UTS, meski belajar itu tidak harus menghafal namun tetap saja ada yang harus dihafal seperti matkul mikrobiologi. Sebenarnya kurang nyaman belajar dengan menghafal, namun nyatanya belajar tanpa menghafal itu mencemaskan apalagi saat datang ke kampus dan temen-temen yang lain pegang buku sambil terus berkomat-kamit mengulang hafalannya. Tergantung selera, yang utama mengerti materi.
Semester dua memang menguras waktu, tenaga, pikiran maupun financial namun yakinlah untuk belajar semuanya takkan pernah sia-sia tak berharga tinggal kita pintar-pintar memanfaatkannya dan melakukannya dengan ikhlas, semoga Allah meridhoi.

Waktu selalu terasa sempit karena libur diisi dengan mengerjakan laporan dan jadwal kuliah padat dari hari senin-sabtu, akhirnya disaat UAS dimanfaatkan untuk refreshing karena di situlah waktu terasa agak lapang, pergi ke kampus hanya mengerjakan soal selama 2 jam sisanya free.

Akhirnya, iseng-iseng dengan membawa dompet yang tipis, laptop dan handout kimia pangan berangkatlah dari Bogor menuju Depok dengan menggunakan KRL. Berada di gerbong wanita, terlihat para wanita yang sudah berumur dan bebrapa ibu hamil tengah duduk dengan nyaman. Sebagai wanita yang masih fit tentunya harus merelakan kaki untuk berdiri beberapa menit mengutamakan mereka. It’s no big problem.

 Melewati beberapa stasiun di daerah bogor-depok adalah pertama kalinya, mata selalu tertuju pada jendela kereta namun sesekali menatap kearah penumpang,tak sengaja terlihat seorang ibu yang memperjuangkan kenyamanan anaknya di kereta, “tersenyum” SubhanAllah, kasih sayang seorang ibu tak kenal waktu dan tempat.

Tibalah di tempat tujuan, sebuah universitas yang termasuk ke dalam universitas terbaik di Indonesia. Dirasa setiap orang sudah mengetahui universitas di Depok ini.
Niat awal ke tempat ini yaitu berkunjung ke perpustakaannya mencari referensi untuk laporan, karena hanya dengan modal nekat akibatnya harus rela mencari sendiri letak perpustakaannya.   Alhamdulillah, akhirnya didapati juga tempat ini meski harus berolahraga terlebih dahulu.

Tempatnya cukup mewah, terdiri dari beberapa lantai. Di lantai dasar terdapat Lobi yang nyaman dengan sofa dan AC yang bisa membuat otak lebih lancar berfikir, kalaupun lapar disini banyak terdapat tempat makan, yang terlihat mencolok adalah starbuck atau jika ingin snack  bisa dibeli di indomaret. Tempat peribadahan juga cukup nyaman karena mushola wanita terpisah dengan laki-laki.

Di lantai dua dan seterusnya banyak buku-buku dengan berbagai kategori ataupun tempat diskusi, namun jika bukan mahasiswa dari Universitas Indonesia, harus membayar terlebih dahulu dan mengenakan stiker yang telah didapatkan untuk bisa berkunjung ke lantai atas cukup dengan 5k untuk bisa mendapatkannya.

Namun tampaknya harus mahir mengoperasikan mesin pencari untuk mencari buku disana, karena dengan cara manual membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkannya terbukti saya tidak menemukkan buku yang dicari.

Karena niat berkunjung unuk mencari referensi hanya sekitar 30%, akhirnya disana hanya menumpang untuk mengerjakan laporan. Alhamdulillah,disana laporan dapat terselesaikan.
Nyatanya belajar tak melulu harus dikerjakan diatas teras kossan, bisa di tempat yang membuat hati nyaman.